Pakaian
adat Bali kalau dilihat sekilas terkesan sama. Padahal sebenarnya
pakaian adat Bali sangat bervariasi. Dengan melihat pakaian adat Bali
yang dikenakan seseorang dalam suatu acara, bisa dilihat status ekonomi
dan status pernikahannya. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pakaian
adat Bali memiliki keanggunan dan citra tersendiri.
Setidaknya
ada tiga jenis pakaian Adat Bali yang umum dikenakan oleh masyarakat
Bali. Pertama, pakaian adat untuk upacara keagamaan. Kedua, pakaian adat
untuk upacara pernikahan. Dan, ketiga adalah pakaian adat untuk
aktivitas sehari-hari. Pakaian Adat khas Bali ini berbeda antara yang
dipakai oleh laki-laki dan perempuan.
Misalnya pemakaian sanggul ke pura oleh remaja putri. Mereka memakai sanggul atau pusung gonjer sedangkan untuk perempuan dewasa (sudah menikah) menggunakan sanggul (pusung tagel).
Busana Agung adalah pakaian adat Bali yang paling mewah. Pakaian adat
Bali yang satu ini biasanya dipakai pada rangkaian acara ‘Potong Gigi’
atau Perkawinan.
Busana
Agung mempunyai beberapa variasi tergantung tempat, waktu dan keadaan.
Kain yang digunakan dalam pakain adat Bali yang satu ini adalah wastra
wali khusus untuk upacara atau wastra putih sebagai simbol kesucian.
Tapi, tak jarang pula kain dalam pakaian adat Bali ini diganti dengan
kain songket yang sangat pas untuk mewakili kemewahan atau prestise bagi
pemakainya.
Sedangkan untuk laki-laki Bali selain menggunakan kain tersebut sebagai pakaian adat Bali. Mereka juga memakai kampuh gelagan atau dodot yang dipakai hingga menutupi dada.
Sementara, perempuan Bali sebelum menggunakan Busana Agung biasanya menggunakan kain lapis dalam yang disebut sinjang tau tapih untuk mengatur langkah wanita agar tampak anggun.
Pakaian
adat Bali selain mempunyai nilai keindahan, tapi di dalamnya juga
terkadung nilai – nilai filosofis dan simbolik yang tersembunyi dalam
bentuk, fungsi, dan maknanya. Itulah sebabnya dalam pakaian adat Bali
dihiasi oleh berbagai ornamen dan simbol yang mempunyai arti tersindiri.
Kelengkapan Pakaian Adat Bali
Kelengkapan
pakaian adat Bali terdiri dari beberapa item. Item itu antara lain
kamen untuk pria, songket untuk pria dan wanita, udeng untuk pria dan
sanggul lengkap dengan tiaranya untuk wanita. Disamping itu laki-laki
Bali mengenakan keris, sedangkan wanita menggunakan kipas sebagai
pelengkapnya.
Berbicara
masalah harga, pakaian adat Bali ini sangat bervariasi. Songket Bali
bisa didapatkan dengan varian harga yang sesuai dengan kemampuan sang
pembeli, dimana dimulai dari harga lima ratus ribu hingga jutaan rupiah
untuk yang halus dan berbenang emas. Sedangkan yang biasa dan umum
digunakan masyarakat Bali ada di bawah harga tersebut dan tersedia
secara luas di pasar-pasar tradisional.
Filosofi dalam Pakaian Adat Bali
Pakaian
adat Bali menyimpan nilai filosofi yang sangat mendalam. Filosofi
pakaian adat Bali dalam beberapa hal mungkin hampir sama dengan
kebanyakan pakaian adat daerah lain, namun karena Bali juga merupakan
salah satu tempat yang disakralkan dan sudah mendunia, maka filosofi
pakaian adat Bali ikut menjadi penting dalam eksistensinya. Pakaian adat
Bali memiliki standardisasi dalam kelengkapannya.
Pakaian
adat Bali lengkap biasanya dikenakan pada upacara adat dan keagamaan
atau upacara perayaan besar. Sedangkan pakaian adat madya dikenakan saat
melakukan ritual sembahyang harian atau pada saat menghadiri acara yang
menggembirakan. Seperti pada saat pesta kelahiran anak, sukses
memperoleh panen atau kelulusan anak dan penyambutan tamu.
Filosofi
pakaian adat Bali pada dasarnya bersumber pada ajaran Sang Hyang Widhi,
yakni Tuhan yang diyakini memberikan keteduhan, kedamaian dan
kegembiraan bagi umat Hindu yang mempercayainya.
Setiap
daerah memiliki ornamen berbeda yang memiliki arti simbolis dalam
pakaian adatnya masing-masing. Meskipun demikian, pakaian adat Bali pada
dasarnya adalah sama, yakni kepatuhan terhadap Sang Hyang Widhi.
Pakaian ini juga seringkali digunakan untuk membedakan kasta,
yang merupakan buatan manusia itu sendiri. Di hadapan Sang Hyang Widhi,
manusia semua sama derajatnya. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada
sang pencipta, pakaian adat Bali adalah suatu bentuk penghormatan
kepada tamu yang datang. Ini adalah hal yang wajar, mengingat jika anda
sebagai tamu maka akan merasa terhormat jika disambut oleh pemilik rumah
yang berpakaian bagus dan rapi.
2. Pakaian Adat Provinsi Jawa Barat
3. Pakaian Adat Provinsi Jawa Tengah
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.
Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.
Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam. Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.
Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.
Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.
Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan model kebaya Jawa, yang juga dipakai di Sumatera Selatan, daerah pantai Kalimantan, Kepulauan Sumbawa, dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Baju ini terdiri dari dua helai potongan, yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang, serta dua buah lengan baju. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka.
Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan.
Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju
beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.
Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton, tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar, ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan, bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar.
Busana Basahan
Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta, Jawa Tengah. Sebab, tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Dalam adat busana perkawinan misalnya, seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana, yang disesuaikan dengan tahapan upacara, yaitu midodareni, ijab, panggih dan sesudah upacara panggih. Pada upacara midodareni, pengantin wanita memakai busana kejawen dengan warna sawitan. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang, stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep, yang terdiri dari baju atela, udeng, sikepan, sabuk timang, kain jarik, keris dan selop.
Saat upacara ijab, busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik, sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak, dodot bangun tulak, stagen, sabuk lengkap dengan timang dan cinde, celana panjang warna putih, keris warangka ladrang dan selop.
Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama, basahan. Busana basahan adalah tidak memakai baju, melainkan terdiri dari semekan atau kemben, dodot bangun tulak atau kampuh, sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kira-kira 4-5 meter, dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar, warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Sama halnya dengan pengantin wanita, pengatin pria pun memakai busana adat basahan, berupa dodot bangun tulak, terdiri dari kuluk matak biru muda, stagen, sabuk timang, epek, dodot bangun tulak, celana cinde sekar abrit, keris warangka ladrang, kolong karis, selop dan perhiasan kalung ulur.
Pada upacara panggih ini, biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur, timang/epek, cincin, bros dan buntal. Sedangkan bagi pengantin wanita, perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul, jungkat, centung, kalung, gelang, cincin, bros, subang dan timang atau epek.
Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya, pada upacara setelah panggih, pengantin wanita memakai busana kanigaran, yaitu terdiri dari baju kebaya, kain jarik, stagen dan selop. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan, yang terdiri dari kuluk kanigoro, stagen, baju takwo, sabuk timang, kain jarik, keris warangka ladrang dan selop.
Sebagai kelengkapan, dalam busana adat perkawinan, maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Bagi pengantin pria, cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka, mata, alis, pipi dan bibir.
Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris, swastika (misalnya bintang dan matahari), hewan (misal : burung, ular, kerbau, naga), tumbuh-tumbuhan (bunga teratai, melati) maupun alam dan manusia. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal, pilin, ikal rangkap dan pilin ganda. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang, yang melambangkan kesuburan.
Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis, seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Sedangkan kain sido mukti, kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai.
Fungsi pakaian, awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu, maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.
Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan; fungsi estetis, yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik; fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas.
4. Pakaian Adat Provinsi Yogyakarta
Pakaian Tradisional Sumatera Utara juga beragam, Semua etnis yang ada di Sumatera Utara memiliki nilai budaya sendiri-sendiri dan semuanya itu menjadi keunikan budaya sumatera utara, seperti adat istiadat, tarian daerah, Makan, pakaian adat serta bahasa daerah masing-masing. Dari beragam Budaya Sumatera Utara ini tentunya sangat mendukung sekali untuk promosi tempat wisata Sumatera Utara.
Dengan melihat gambar pakaian adat tradisional daerah sumatera utara ini, moga menambah wasasan kita tentang Budaya Indonesia, bahwa negara kita memiliki keunikan budaya yang pantas di benggakan. Pakaian adat tradisional Sumatera Utara tentu semakin menambah kekayaan Pakaian Tradisional Indonesia.
Jawa
Barat sebagai propinsi yang terdekat, selain banten, dengan Ibu Kota
Jakarta, tentu mengalami beberapa hal yang sangat memengaruhi kehidupan
budaya masyarakatnya. Apa lagi kekinian, buadaya jawa Barat yang
terkenal dengan wilayah Priyangan barat, timur, Cirebon, dan Banten
telah terkontaminasi budaya modernitas dan pergaulannya yang mulai
menjauh dari budaya dan adat daerahnya. Begitu pun dalam hal berpakaian,
masyarakat propinsi Jawa Barat tercatat mengalami beberapa perubahan
besar dalam tata cara berpakaian.
Tulisan
ini akan mencoba memaparkan pakaian adat Jawa barat dari aspek sejarah
dan filosofinya yang telah hilang. Karena jika kita berbicara pakaian
adat yang dikenakan masyarakat Jawa Barat pada hari ini, kita akan
terdistorsi dengan perbedaan yang sangat kentara dari berbagai kota dan
kabupaten yang terdapat dalam Propinsi Jawa Barat. Hal ini disebabkan
oleh peperangan yang terjadi selama kurun waktu pra kolonial hingga dua
masa kolonialisme. Terutama Jepang yang sangat keras menerapkan
aturannya di Indonesia, dan mengangkut segala macam bahan pangan, dan
sandang.
Sejalan
dengan adanya beberapa nilai yang hilang, maka norma pun berubah. Di
antaranya norma tentang cara berpakaian. Di Jawa Barat pada jaman
kolonial Jepang, Ikat kepala atau bendo hampir serempak ditinggalkan.
Sanggul bagi para mojang telah diganti kepang, dan kain kebaya yang
beralih pada gaun yang dianggap lebih praktis. Dengan kenyataan
tersebut, bisa kita tarik kesimpulan bahwa titik kulminasi perkembangan
busana Jawa Barat terjadi pada waktu akhir pemerintahan hindia Belanda.
Buku yang berjudul Tatakrama Oerang Soenda (Satjadibrata, 1946) memuat
beberapa ketentuan cara berpakaian masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang
dianggap pantas saat itu. Cara berpakaian itulah secara umum dijadikan
rujukan pakaian tradisional Masyarakat Jawa Barat.
Jadi tulisan ini akan melangkah menuju rimba sejarah pakaian adat masyarakat Jawa Barat yang bersandar pada hasil-hasil penafsiran bukti bukti sejarah, baik dalam bentuk prasasti, naskah, atau sastra lisan yang menjadi saksi dan tanda keberadaat pakaian tradisional saat itu.
Jadi tulisan ini akan melangkah menuju rimba sejarah pakaian adat masyarakat Jawa Barat yang bersandar pada hasil-hasil penafsiran bukti bukti sejarah, baik dalam bentuk prasasti, naskah, atau sastra lisan yang menjadi saksi dan tanda keberadaat pakaian tradisional saat itu.
Bukti
awal yang menunjukkan keberadaan kerajinan seni tenun di Jawa Barat
terdapat pada piagam tembaga Kebantenan yang ditulis pada masa
pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521), berikut kutipannya dalam
terjemahan: “Inilah tanda peringatan Rahyang Niskala Wastu Kancana yang
turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, demikian pula kepada Susuhunan
yang sekarang ada di Pakuan Pajajaran. Titiplah ibukota di Jayagiri dan
ibu kota Sunda Sembawa. Di sana ada orang yang memberi kesejahtraan.
Jangan diganggu oleh pemungut pajak, baik kapas yang telah ditimbang mau
pun padi yang sudah dipikul...” dapat dipastikan bahwa “kapas” yang
disebut dalam piagam itu adalah bahan baku untuk membuat pakaian.
Begitu
pula dalam sastra lisan, pada cerita rakyat Jawa Barat kita mengenal
nama Dayang Sumbi dalam kisah “Tangkuban Perahu”. Kata dayang pada nama
tokoh cerita itu merupakan kata sandang yang berasal dari danghyang
(bahan pembanding “dang” pada kisah Melayu). Ada pun sumbi secara
harfiah berarti “sepotong bambu kecil yang digunakan untuk pembatas
lebar tenunan” (Rig, 1862). Jadi Dayang Sumbi adalah perempuan terhormat
yang pekerjaannya menenun kain.
Dari asumsi tersebut, berarti sudah sejak dulu masyarakat Jawa Barat mengenal seni tradisi tenun, keculi daerah Baduy, namun hari ini kita sudah tidak menemukannya lagi. Padahal tenunan Majalaya dan sarung cap padi buatan Garut sempat merajai pasaran sampai pertengahan dekade enam puluhan.
Informasi lain tertulis pada buku Sanghyang Siksa Kandang Karesian pada tahun 1518 di dalamnya memngungkap mengenai ragam corak tenunan, di antaranya: kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat sahurun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, cecempaan, paparanakan, surat awi, parigi nyengsoh, gaganjar, lusian besar, kampuh jayanti, hujan riris, laris, boleh alus, dan ragen panganten. Selain itu ada pula corak batik, yaitu; pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata dan kembang tarate.
Dari asumsi tersebut, berarti sudah sejak dulu masyarakat Jawa Barat mengenal seni tradisi tenun, keculi daerah Baduy, namun hari ini kita sudah tidak menemukannya lagi. Padahal tenunan Majalaya dan sarung cap padi buatan Garut sempat merajai pasaran sampai pertengahan dekade enam puluhan.
Informasi lain tertulis pada buku Sanghyang Siksa Kandang Karesian pada tahun 1518 di dalamnya memngungkap mengenai ragam corak tenunan, di antaranya: kembang muncang, gagang senggang, sameleg, seumat sahurun, anyam cayut, sigeji, pasi-pasi, kalangkang ayakan, poleng rengganis, jayanti, cecempaan, paparanakan, surat awi, parigi nyengsoh, gaganjar, lusian besar, kampuh jayanti, hujan riris, laris, boleh alus, dan ragen panganten. Selain itu ada pula corak batik, yaitu; pupunjengan, hihinggulan, kekembangan, alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata dan kembang tarate.
Dari
informasi di atas, jelaslah bahwa tradisi menenun dan menulis batik
sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Barat sejak abad ke 15. Hal ini
membantah anggapan yang menyatakan bahwa masyarakat Sunda baru mengenal
tradisi menulis batik pada abad ke 17 dari orang Jawa. Namun memang
sangat di sayangkan, Masyarakat Sunda tidak mampu mempertahankannya,
hingga hilang dan tak termusiumkan.
Ada juga naskah yang menulis prihal dandanan perempuan Sunda, diperkirakan ditulis awal abad ke-18, yakni pada Ratu Pakuan (Atja, 1970).
Ada juga naskah yang menulis prihal dandanan perempuan Sunda, diperkirakan ditulis awal abad ke-18, yakni pada Ratu Pakuan (Atja, 1970).
Dandanan
laki-laki pun sering digambarkan dalam cerita pantun Sunda. Pada pantun
Panggung karaton (1971) antara lain terdapat ungkapan cawet puril
pupurikil (bercawat ketat tak bercelana); disingjangan kotok nonggeng
(berkain gaya ayam nungging); totopong bong totopong bang (ikat kepala
bong dan bang); lancingan lepas (celana panjang); baju bebek (baju
berlengan pendek); totopong batik manyingnyong (ikat kepala gaya batik
manyingnyong); dibendo dibelengongkeun (bersetangan kepala rapih dalam
bentuk menggelembung) baju kurung; baju mikung (baju anak-anak); baju
paret (baju dengan kancing banyak); baju senting (baju laki-laki yang
pendek bagian belakannya).
Semua itu kemudian serta merta ditinggalkan karena adanya ketentuan baku dari pemerintah Jepang tentang tata cara berpakaian masyarakat Jawa Barat. Pakaian kaum laki-laki yang dianggap pantas jaman jepang ialah: pertama, bendo, jas (tutup dan bukan berdasi), kain poleng sunda, dan terompah atau selop. Kedua, bendo, jas (tutup atau bukaan berdasi), kain kebat, dan terompah atau selop tanpa kaos kaki; dan ketiga; bendo, jas (tertutup bukan berdasi), pantolan (celana panjang), dan sepatu tanpa kaos.
Semua itu kemudian serta merta ditinggalkan karena adanya ketentuan baku dari pemerintah Jepang tentang tata cara berpakaian masyarakat Jawa Barat. Pakaian kaum laki-laki yang dianggap pantas jaman jepang ialah: pertama, bendo, jas (tutup dan bukan berdasi), kain poleng sunda, dan terompah atau selop. Kedua, bendo, jas (tutup atau bukaan berdasi), kain kebat, dan terompah atau selop tanpa kaos kaki; dan ketiga; bendo, jas (tertutup bukan berdasi), pantolan (celana panjang), dan sepatu tanpa kaos.
Ada
pun untuk kaum perempuan ialah kebaya, kain, selop, dan karembong
(selendang). Sedang rambutnya biasa dibentuk menjadi sanggul yang nama
atau jenisnya bermacam-macam. Jika seorang perempuan tidak mengenakan
karembong maka dia akan dianggap wanita murahan. Berawal dari sanalah
kita kehilangan identitas Jawa Barat yang sesungguhnya.
3. Pakaian Adat Provinsi Jawa Tengah
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.
Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.
Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam. Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.
Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.
Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.
Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan model kebaya Jawa, yang juga dipakai di Sumatera Selatan, daerah pantai Kalimantan, Kepulauan Sumbawa, dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Baju ini terdiri dari dua helai potongan, yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang, serta dua buah lengan baju. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka.
Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan.
Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju
beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.
Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton, tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar, ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan, bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar.
Busana Basahan
Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta, Jawa Tengah. Sebab, tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Dalam adat busana perkawinan misalnya, seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana, yang disesuaikan dengan tahapan upacara, yaitu midodareni, ijab, panggih dan sesudah upacara panggih. Pada upacara midodareni, pengantin wanita memakai busana kejawen dengan warna sawitan. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang, stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep, yang terdiri dari baju atela, udeng, sikepan, sabuk timang, kain jarik, keris dan selop.
Saat upacara ijab, busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik, sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak, dodot bangun tulak, stagen, sabuk lengkap dengan timang dan cinde, celana panjang warna putih, keris warangka ladrang dan selop.
Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama, basahan. Busana basahan adalah tidak memakai baju, melainkan terdiri dari semekan atau kemben, dodot bangun tulak atau kampuh, sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kira-kira 4-5 meter, dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar, warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Sama halnya dengan pengantin wanita, pengatin pria pun memakai busana adat basahan, berupa dodot bangun tulak, terdiri dari kuluk matak biru muda, stagen, sabuk timang, epek, dodot bangun tulak, celana cinde sekar abrit, keris warangka ladrang, kolong karis, selop dan perhiasan kalung ulur.
Pada upacara panggih ini, biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur, timang/epek, cincin, bros dan buntal. Sedangkan bagi pengantin wanita, perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul, jungkat, centung, kalung, gelang, cincin, bros, subang dan timang atau epek.
Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya, pada upacara setelah panggih, pengantin wanita memakai busana kanigaran, yaitu terdiri dari baju kebaya, kain jarik, stagen dan selop. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan, yang terdiri dari kuluk kanigoro, stagen, baju takwo, sabuk timang, kain jarik, keris warangka ladrang dan selop.
Sebagai kelengkapan, dalam busana adat perkawinan, maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Bagi pengantin pria, cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka, mata, alis, pipi dan bibir.
Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris, swastika (misalnya bintang dan matahari), hewan (misal : burung, ular, kerbau, naga), tumbuh-tumbuhan (bunga teratai, melati) maupun alam dan manusia. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal, pilin, ikal rangkap dan pilin ganda. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang, yang melambangkan kesuburan.
Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis, seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Sedangkan kain sido mukti, kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai.
Fungsi pakaian, awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu, maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.
Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan; fungsi estetis, yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik; fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas.
4. Pakaian Adat Provinsi Yogyakarta
Yogyakarta
merupakan salah satu tempat di Indonesia dengan kekayaan budaya yang
melimpah-ruah, termasuk dalam hal pakaian adat. Butuh berlembar-lembar
halaman untuk mengurai, baik dari sisi jenis, waktu pemakaian, cara
pembuatan, material, atau bahkan simbol dan filosofi di baliknya. Di
dalam Keraton Yogyakarta, berbagai kekayaan khasanah sandang masyarakat
Jawa, khususnya di Yogyakarta, masih hidup secara alami dalam keseharian
manusianya.
Berikut
ini secara singkat diuraikan berbagai jenis pakaian adat Yogyakarta,
terutama yang dikenakan di dalam keraton, yang disarikan dari buku “Pakaian Adat Tradisional Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta”, yang disusun oleh Wibowo, H. J., dkk (1990), terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya:
1.Pakaian Abdi Dalem
Abdi
dalem adalah seluruh pegawai atau karyawan keraton, yang umumnya
tinggal di sekitar keraton. Pakaian mereka terdiri dari dua macam, yakni
Sikep Alit dan Langenarjan.
Perangkat pakaian Sikep Alit terdiri dari kain batik sawitan,
baju hitam dari bahan laken (dengan kancing dari tembaga atau kuningan
yang disepuh emas, berjumlah 7 hingga 9 buah), penutup kepala destar, keris model gayaman
(diletakan di peinggang sebelah kanan belakang), selop hitam, topi pet
hitam dengan pasmen emas. Pakaian model ini dikenakan untuk keperluan
sehari-hari.
Sementara pakaian model Langeran merupakan seperangkat pakaian dengan perlengkapan kain batik, baju bukakan yang yang dibuat dari bahan laken warna hitam, kemeja putih dengan kerah model berdiri, destar sama dengan model pakaian Sikepan Alit, keris model ladrangan atau gayman,
dipakai di pinggang sebelah belakang kanan, dasi berwarna putih model
kupu-kupu, serta selop berwarna hitam. Jenis pakaian ini pada umumnya
dikenakan pada waktu malam untuk menghadiri suatu pertemuan dan jamuan
makan malam dalam satu pesta khusus.
2.Pakaian Dinas
Pakaian Dianas terdiri dari tiga jenis, yakni Pakaian Ageng, Pakaian Pethok, dan Pakaian Tindakan.
Berikut hanya akan dijelaskan jenis-jenis Pakaian Ageng, yang merupakan
pakaian dinas harian para pejabat di lingkungan keraton.
Pakaian
Ageng merupakan seperangkat pakaian adat yang berupa model jas laken
berwarna biru tua dengan kerah model berdiri, serta dengan rangkapan
sutera berwarna biru tua, yang panjangnya mencapai bokong, lengkap
dengan ornamen kancing-kancing bersepuh emas. Celananya sendiri berwarna
hitam. Topi yang dikenakan terbuat dari bahan laken berwarna biru tua,
dengan model bulat-panjang, dengan tinggi 8 cm.
Pakaian
Ageng yang dikenakan oleh masing-masing pejabat, memiliki sedikit
perbedaan sebagai penanda strata dan fungsi mereka. Berikut adalah para
pejabat di lingkungan keraton dan perbedaan atribut yang mereka sandang:
- Pakaian bupati bertitel pangeran diberi plisir renda emas lugas lebar 1 cm, dipasang secara teratur di tepi kerah. Pada semua bagian tepi jas diberi hiasan renda dengan bordiran motif bunga padi.
- Pakaian bupati bertitel adipati “song-song jene” (payung kuning) mirip pakaian bupati bertitel pangeran, hanya terdapat sedikit hiasan bordiran pada bagian bawah kerah tidak melingkar secara penuh, tetapi ada jarak sekitar 8 cm.
- Pakaian bupati bertitel adipati mirip pakaian adipati “song-song jene”. Perbedaannya terletak pada hiasan bordiran pada bagian bawah kerah.
- Pakaian bupati bertitel temanggung seperti pakaian adipati, dengan perbedaan pada bordiran sebelah bawah, yang panjangnya hanya 2/3 dari ukuran lingkaran jas.
- Pakaian patih seperti pakaian tumanggung, tetapi bordiran di bagian depan panjangnya sampai 3 ½ cm sampai bagian bawah kancing.
- Pakaian kepala distrik (wedana) mirip pakaian patih, tetapi dengan bordiran bagian depan dan bagian belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir.
- Pakaian kepala onder distrik (asisten wedana), mirip pakaian patih, tetapi bordiran bagian depan dan bagian belakang dan ujung lengan hanya 2 cm lebarnya dari plisir.
- Pakaian mantri polisi seperti pakaian kepala onder distrik, tetapi tana plisir di bagian depan dan tanpa bordiran bunga padi pada bagian kerahnya.
- Pakaian Prajurit Jagakarya
Prajurit Jagakarya mengenakan seperangkat pakaian celana lurik ogal-agil (di bawah lutut), baju dalam warna oranye, sepatu model pantofel dari kulit warna biru tua, baju sikepan bahan dari kain lurik, mengenakan sarung tangan warna biru tua, mengenakan ikat kepala hitam dan topi model “celeng mogok”, ditumpangi topi model songkok hitam bersyap, dan dengan keris model mataraman.
- Pakaian Manggala Yudha
Prajurit Manggala Yudha mengenakan seperangkat pakaian yang terdiri atas celana ogal-agil berwarna hitam yang disebut celana panji-panji, kain model sapit urang motif parang, sepatu pantofel hitam dari kulit, kaos kaki berwarna putih, boro motif cindhe yang ujungnya dihias dengan rumbai-rumbai benang emas, baju beskap hitam yang pada tepinya dihias dengan garis motif daun dari bahan benang emas, mengenakan tutup kepala iket balangkon gaya mataraman, yang ditutup dengan songkok hitam yang memakai tutup di belakang, mengenakan keris model beranggah gaya mataraman.
- Pakaian Mantijero
Prajurit
Mantrijero mengenakan sperangkat pakaian yang terdiri atas baju lurik,
celana tanggung bahan lurik, sepatu pantofel hitam dari kulit, kaos kaki
putih pajang, boro motif cindhe, yang pada bagian bawahnya dihiasi dengan rumbai-rumbai warna emas. Mengenakan topi songkok hitam model minak jinggo, sarung tangan putih, dan membawa pedang panjang.
- Pakaian Prajurit Bugis
Prajurit
Bugis mengenakan seperangkat pakaian yang terdiri dari baju kurung
warna hitam, celana berwarna hitam, sepatu kulit pantofel berwarna
hitam, sepatu pantofel kulit berwarna hitam, mengenakan sarung rangan
putih, memakai lonthong cindhe, dengan kamus timang berwarna
hitam bahan dari beludru berhias benang emas, mengenakan keris model
gaya mataraman yang disematkan di depan.
- Pakaian Prajurit Patangpuluh
Pakaian
Ptangpuluh mengenakan seperangkat pakaian yang terdiri dari clana
panjang berwarna putih dan celana pendek warna merah ditutupi sayak
beludru hijau, dikencangkan dengan lonthong cindhe dan
kamus beludru hitam yang bagian tepinya diberi hiasan benang emas. Baju
dalamnya berwarna merah panjang dan bagian luar baju sikepan lurik
patangpuluh. Mengenakan sepatu model bongkop kulit berwarna hitam dan kaos kaki panjang. Mengenakan selempang sedong beludru dihias kretep emas melintang di baju sikepan, topi songkok hitam, dan memegang pedang panjang.
Berbagai
jenis pakaian di atas hanya mewakili sedikti saja dari kekayaan
khasanah sandang Yogyakarta, khususnya di dalam keraton. Profil pakaian
di atas, belum mencakup yang dikenakan Sultan dan keluarganya, juga
belum mencakup ritual-ritual khsusus, yang pada umumnya memiliki
tata-aturan berbusana yang tersendiri, seperti pernikahan, kematian,
sunatan, dan lain sebagainya.
5. Pakaian Adat Provinsi Sumatra Barat
Sumatera Utara yang beribukota di Medan adalah provinsi multietnis
dimana ada beberapa etnis yang mendominasi yaitu dengan suku Batak, Nias
serta etnis Melayu sebagai penduduk asli yang ada wilayah Sumatra
Utara. Wilayah pesisir bagian timur provinsi Sumatera Utara, sebagian
besar dihuni oleh masyarakat Melayu. Wilayah pantai barat mulai dari
Barus sampai Natal, banyak di huni oleh orang Minangkabau. Sedangkan
untuk wilayah tengah sekitar daerah Danau Toba, banyak didiami oleh Suku
Batak. Sedangkan Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Berikut
ini adalah Pakaian Adat Indonesia yang berasal dari provinsi
SumatraUtara.
Pakaian Tradisional Sumatera Utara juga beragam, Semua etnis yang ada di Sumatera Utara memiliki nilai budaya sendiri-sendiri dan semuanya itu menjadi keunikan budaya sumatera utara, seperti adat istiadat, tarian daerah, Makan, pakaian adat serta bahasa daerah masing-masing. Dari beragam Budaya Sumatera Utara ini tentunya sangat mendukung sekali untuk promosi tempat wisata Sumatera Utara.
Dengan melihat gambar pakaian adat tradisional daerah sumatera utara ini, moga menambah wasasan kita tentang Budaya Indonesia, bahwa negara kita memiliki keunikan budaya yang pantas di benggakan. Pakaian adat tradisional Sumatera Utara tentu semakin menambah kekayaan Pakaian Tradisional Indonesia.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar